Begitu ungkapan hati kecil saya saat sebuah sepeda motor tiba-tiba menyalip di depan kendaraan saya di sebuah perempatan jalan menuju kantor saya. Bersyukurnya rem motor saya cukup pakem, jadi secepat kilat saya menahan rem, sehingga tidak sampai bertabrakan dengan motor tersebut. Rasa jengkel, marah ingin saya keluarkan dari mulut, namun satu bisikan kalimat di hati membuat saya menahan semua itu.
Berawal dari saya mengikuti Wanita Bijak modul 2 dari pelajaran awal Kejarlah Kasih, seolah-olah semua ayat-ayat dalam 1 Korintus 13 sangat menemplak dalam hari-hari saya, padahal sebelum-sebelumnya ayat ini biasa yang saya baca tanpa ada perasaan yang lebih. Malah saya sering membaca ayat-ayat ini yang seringkali tertera dalam wedding card orang-orang yang hendak menikah. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Apa yang dikatakan dalam 1 Korintus ini adalah mungkin kehidupan keseharian kita dalam berkomunitas, bermasyarakat dan berinteraksi dengan sesama. Yang seringkali tanpa sadar kita tidak pernah mengaplikasikan Firman Tuhan ini dalam hidup kita. Begitu Firman Tuhan ini menjadi rhema dalam hidup saya, seakan semua ayat Firman Tuhan ini berjalan mengontrol hidup saya. Sebelumnya saya sangat sulit melupakan kesalahan yang orang lain telah perbuat kepada saya. Saya bisa berhari-hari mengingat-ingat kesalahan orang yang telah menyakiti saya, bahkan saya bisa membuat rencana selalu untuk membalas. Selain itu saya juga sering tidak sabar, gampang marah. Saya cepat sekali terbawa emosi. Namun sekarang, saat orang lain melakukan hal tersebut kepada saya, selalu kata kasih yang ada dalam hati saya yang membuat saya berusaha melawan pikiran saya untuk tidak membalas. Sangat sulit tentunya, karena saya harus menyangkal diri dan berusaha untuk mengasihi walau sakit. Namun kasih Tuhan yang memampukan saya.
Berespon positif! Itulah awal tindakan saya untuk mempraktekkan kasih. Waktu saya bertindak dengan kasih, hati saya sedikit-sedikit mulai mencair, dari perasaan sebal jadi mulai mengampuni, dari perasaan emosi jadi mulai bersabar, dari perasaan marah jadi mulai cooldown. Bisa saja saya menolak untuk melakukan ini semua, toh orang yang berbuat salah dengan kita pun tidak memikirkan apa-apa tentang kita, tapi saya mau belajar seperti Yesus yang sudah terlebih dahulu mengasihi saya tanpa syarat. Itulah kasih sekalipun orang lain tidak berbuat sesuatu pun buat kita. Karena kasih adalah dasar dari segala sesuatu dan tanpa kasih saya bukan apa-apa. Seperti Firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:1, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”
Wah luar biasa mempraktekkan mengejar kasih! Let's follow the way of love!
seeeepp... hehehehe...
BalasHapus