Smua baik
smua baik
apa yang tlah Kau perbuat di dalam hidupku
smua baik sungguh teramat baik
Kau jadikan hidupku berarti...
Saat kita nyanyi lagu ini dalam kondisi baik-baik saja, mungkin sangat mudah kita lantunkan lirik lagu ini. Tapi saat kondisi kita tidak baik, apakah kita masih dengan mudah menyanyikan lagu ini?
Hal ini yang saya alami seminggu yang lalu. Ketika kondisi cape, kerjaan menumpuk, banyak masalah yang terjadi, smua orang meninggalkan saya, pikiran jadi tidak menentu, saya mencoba menyanyikan lagu ini dalam saat teduh saya bersama Tuhan di pagi hari. Yang ada berat banget rasanya..........
Namun saya mencoba terus melawan pikiran saya untuk terus berkata bahwa Tuhan baik, saya bersyukur buat smua yang terjadi lewat lagu ini. Lama-lama saya bisa masuk dalam hadirat Tuhan, dan saya menikmati kelegaan dari Tuhan.
Bersyukur, sebuah kalimat yang mudah kita ucapkan, namun apakah hati kita sama dengan bibir kita tentang ucapan syukur ini? Ada orang yang berkata bersyukur sangat mudah diucapkan apabila kita sedang mengalami berkat yang banyak, hal-hal yang gembira, tapi bagaimana bila sebaliknya terjadi apakah kita juga bisa bersyukur?
BISA!!!
Hal inilah yang saya rasakan pada saat teduh saya beberapa hari yang lalu itu. Saya mencoba untuk bersyukur walaupun dengan pikiran yang berat. Akhirnya justru saya mendapat semangat yang baru, sukacita yang baru, berkat yang baru, kasih karunia yang baru mengalir saat kata syukur kita ucapkan dengan hati yang tulus.
Ternyata bersyukur adalah sebuah KEPUTUSAN DAN PILIHAN kita. Jadi bersyukur bukan masalah bisa atau tidak bisa, tetapi mau atau tidak mau?
Mari ambil keputusan untuk bersyukur setiap hari kepada Tuhan untuk segala yang Tuhan sudah beri.
Rabu, 27 Oktober 2010
Sabtu, 18 September 2010
"Sabar Liana....,sabar!"
Begitu ungkapan hati kecil saya saat sebuah sepeda motor tiba-tiba menyalip di depan kendaraan saya di sebuah perempatan jalan menuju kantor saya. Bersyukurnya rem motor saya cukup pakem, jadi secepat kilat saya menahan rem, sehingga tidak sampai bertabrakan dengan motor tersebut. Rasa jengkel, marah ingin saya keluarkan dari mulut, namun satu bisikan kalimat di hati membuat saya menahan semua itu.
Berawal dari saya mengikuti Wanita Bijak modul 2 dari pelajaran awal Kejarlah Kasih, seolah-olah semua ayat-ayat dalam 1 Korintus 13 sangat menemplak dalam hari-hari saya, padahal sebelum-sebelumnya ayat ini biasa yang saya baca tanpa ada perasaan yang lebih. Malah saya sering membaca ayat-ayat ini yang seringkali tertera dalam wedding card orang-orang yang hendak menikah. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Apa yang dikatakan dalam 1 Korintus ini adalah mungkin kehidupan keseharian kita dalam berkomunitas, bermasyarakat dan berinteraksi dengan sesama. Yang seringkali tanpa sadar kita tidak pernah mengaplikasikan Firman Tuhan ini dalam hidup kita. Begitu Firman Tuhan ini menjadi rhema dalam hidup saya, seakan semua ayat Firman Tuhan ini berjalan mengontrol hidup saya. Sebelumnya saya sangat sulit melupakan kesalahan yang orang lain telah perbuat kepada saya. Saya bisa berhari-hari mengingat-ingat kesalahan orang yang telah menyakiti saya, bahkan saya bisa membuat rencana selalu untuk membalas. Selain itu saya juga sering tidak sabar, gampang marah. Saya cepat sekali terbawa emosi. Namun sekarang, saat orang lain melakukan hal tersebut kepada saya, selalu kata kasih yang ada dalam hati saya yang membuat saya berusaha melawan pikiran saya untuk tidak membalas. Sangat sulit tentunya, karena saya harus menyangkal diri dan berusaha untuk mengasihi walau sakit. Namun kasih Tuhan yang memampukan saya.
Berespon positif! Itulah awal tindakan saya untuk mempraktekkan kasih. Waktu saya bertindak dengan kasih, hati saya sedikit-sedikit mulai mencair, dari perasaan sebal jadi mulai mengampuni, dari perasaan emosi jadi mulai bersabar, dari perasaan marah jadi mulai cooldown. Bisa saja saya menolak untuk melakukan ini semua, toh orang yang berbuat salah dengan kita pun tidak memikirkan apa-apa tentang kita, tapi saya mau belajar seperti Yesus yang sudah terlebih dahulu mengasihi saya tanpa syarat. Itulah kasih sekalipun orang lain tidak berbuat sesuatu pun buat kita. Karena kasih adalah dasar dari segala sesuatu dan tanpa kasih saya bukan apa-apa. Seperti Firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:1, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”
Wah luar biasa mempraktekkan mengejar kasih! Let's follow the way of love!
Berawal dari saya mengikuti Wanita Bijak modul 2 dari pelajaran awal Kejarlah Kasih, seolah-olah semua ayat-ayat dalam 1 Korintus 13 sangat menemplak dalam hari-hari saya, padahal sebelum-sebelumnya ayat ini biasa yang saya baca tanpa ada perasaan yang lebih. Malah saya sering membaca ayat-ayat ini yang seringkali tertera dalam wedding card orang-orang yang hendak menikah. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Apa yang dikatakan dalam 1 Korintus ini adalah mungkin kehidupan keseharian kita dalam berkomunitas, bermasyarakat dan berinteraksi dengan sesama. Yang seringkali tanpa sadar kita tidak pernah mengaplikasikan Firman Tuhan ini dalam hidup kita. Begitu Firman Tuhan ini menjadi rhema dalam hidup saya, seakan semua ayat Firman Tuhan ini berjalan mengontrol hidup saya. Sebelumnya saya sangat sulit melupakan kesalahan yang orang lain telah perbuat kepada saya. Saya bisa berhari-hari mengingat-ingat kesalahan orang yang telah menyakiti saya, bahkan saya bisa membuat rencana selalu untuk membalas. Selain itu saya juga sering tidak sabar, gampang marah. Saya cepat sekali terbawa emosi. Namun sekarang, saat orang lain melakukan hal tersebut kepada saya, selalu kata kasih yang ada dalam hati saya yang membuat saya berusaha melawan pikiran saya untuk tidak membalas. Sangat sulit tentunya, karena saya harus menyangkal diri dan berusaha untuk mengasihi walau sakit. Namun kasih Tuhan yang memampukan saya.
Berespon positif! Itulah awal tindakan saya untuk mempraktekkan kasih. Waktu saya bertindak dengan kasih, hati saya sedikit-sedikit mulai mencair, dari perasaan sebal jadi mulai mengampuni, dari perasaan emosi jadi mulai bersabar, dari perasaan marah jadi mulai cooldown. Bisa saja saya menolak untuk melakukan ini semua, toh orang yang berbuat salah dengan kita pun tidak memikirkan apa-apa tentang kita, tapi saya mau belajar seperti Yesus yang sudah terlebih dahulu mengasihi saya tanpa syarat. Itulah kasih sekalipun orang lain tidak berbuat sesuatu pun buat kita. Karena kasih adalah dasar dari segala sesuatu dan tanpa kasih saya bukan apa-apa. Seperti Firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:1, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”
Wah luar biasa mempraktekkan mengejar kasih! Let's follow the way of love!
Jumat, 16 Juli 2010
Jangan Resahkan Orang Lain Dengan Penampilanmu
Hanya sekedar sharing dalam blogku ini, ada baiknya juga kita merenungkan dari tulisan berikut ini, yg aku ambil dari majalah Rajawali Okt 2005, penulisnya Oscar Lawalata, design mode terkenal di Indonesia. Tulisan ini sangat bermanfaat.
"Zaman sekarang ini, kalau kita lihat anak-anak muda, kalau ke gereja pakaiannya wah pokoknya macem-macem deh. Mulai dari corak, mode, gaya dan pokoknya seru deh...
Belum lagi kalau bicara soal sepatu dan asesoris lainnya. Menurut gue (Oscar) itu sah2 saja, sejauh tidak membuat orang lain resah en gerah. Dan untuk yang bersangkutan sendiri motivasinya ke gereja bukan untuk pamer tapi benar2 bersekutu dengan Tuhan bersama orang lain.
Trus soal baju? Menurut gue, itu seh pribadi sifatnya. Maksudnya tiap pribadi membuat patokannya sendiri2. Setiap orang bijaksana bisa membedakan mana baju yg akan dipakai ke pesta, ke tempat wisata, ke mal dan ke gereja. Sekali lagi khususnya gereja. Mengapa? Menurut gue, karena gereja itu adalah tempat yang eksklusif banget dan khusus. Dan kita percaya maksud ke gereja kan untuk menghadap Tuhan, jadi nggak seperti ke mal misalnya. Kalau elo pergi ke mal dengan baju model buka-bukaan, so pasti nggak ada yang terganggu, karena disana, orang-orang pakaiannya kayak gituan. Tapi ke gereja? Apakah pakaian macam begitu pantas? Pasti buat seluruh jemaat resah. Sekali lagi ini dikembalikan lagi pada kesadaran dan hikmat kita2 juga.
Kalo gue sendiri seh ga setuju2 banget dengan konsep baju ke gereja khusus yang seolah2 "disucikan" gitu. Kalo jaman dulu mungkin itu ada. Tapi kalo gue pengertian baju ke gereja ya itu tadi, baju yg sopan dan nggak bikin orang lain resah, sewot en terganggu konsentrasinya dalam mengikuti ibadah.
Nah lo, pasti nanya ukuran sopan itu yg bgm?
Sopan dalam ukuran standar ketimuran kan ada. Misalnya, ya yg nggak buka-bukaan yg berlebihan sampai jeroaannya kelihatan, itu dalah satunya. Trus ada juga yg pake sandal jepit dan jins belel yg sobek2, menurut gue, itu masuk kategori nggak sopan untuk dipakai ke gereja.
Patokan ideal dalam urusan baju gereja ini, menurut gue sih memang nggak ada. Dan seharusnya nggak ada, karena gue yakin, Tuhan memang hanya melihat hati kita. Tapi, tadi awal gue bilang kudunya kita kasih yang terbaik untuk Tuhan. Tapi yg terbaik itu, jangan dikonotasikan mahal loh. Yang terbaik menurut gue antara lain rapi, bersih dan proposional. Maksud gue proposional, kitanya juga jangan mentang2 ingin sopan, masuk gereja di kampung aja kudu pake jas. Ini yg nggak proposional. Karena itu, kalau ada kawan yg minta gue bikinin baju untuk natalan, gue bilang jangan modelnya yg kelewat aneh2 dan harus sesuai sikon.
Jadi disini sebetulnya intinya, kalau kita ke gereja dan kita membuat orang lain merasa resah dan melotot melihat penampilan kita, pakaian kita, inilah yg salah.
Kita kan ke gereja untuk mencari damai sejahtera, kalau kita sdh bikin orang lain resah, gue pikir, kitanya sudah jadi batu sandungan.
Tapi memang sih ada pengecualian, misalnya kamu hadir dalam ibadah yg semuanya anak muda, atau ibadah padang, itu lain urusan. Yg aneh2 dikit bolehlah. Pokoknya fleksibel ko, yg penting nggak berlebihan lah. Tapi yg mesti diingat adalah kita jangan bikin orang laen tidak sejahtera. Kuncinya, janganlah kita menjadi batu sandungan dengan apa yg kita pakai."
Oks.....gut bgt tulisannya Oscar....
"Zaman sekarang ini, kalau kita lihat anak-anak muda, kalau ke gereja pakaiannya wah pokoknya macem-macem deh. Mulai dari corak, mode, gaya dan pokoknya seru deh...
Belum lagi kalau bicara soal sepatu dan asesoris lainnya. Menurut gue (Oscar) itu sah2 saja, sejauh tidak membuat orang lain resah en gerah. Dan untuk yang bersangkutan sendiri motivasinya ke gereja bukan untuk pamer tapi benar2 bersekutu dengan Tuhan bersama orang lain.
Trus soal baju? Menurut gue, itu seh pribadi sifatnya. Maksudnya tiap pribadi membuat patokannya sendiri2. Setiap orang bijaksana bisa membedakan mana baju yg akan dipakai ke pesta, ke tempat wisata, ke mal dan ke gereja. Sekali lagi khususnya gereja. Mengapa? Menurut gue, karena gereja itu adalah tempat yang eksklusif banget dan khusus. Dan kita percaya maksud ke gereja kan untuk menghadap Tuhan, jadi nggak seperti ke mal misalnya. Kalau elo pergi ke mal dengan baju model buka-bukaan, so pasti nggak ada yang terganggu, karena disana, orang-orang pakaiannya kayak gituan. Tapi ke gereja? Apakah pakaian macam begitu pantas? Pasti buat seluruh jemaat resah. Sekali lagi ini dikembalikan lagi pada kesadaran dan hikmat kita2 juga.
Kalo gue sendiri seh ga setuju2 banget dengan konsep baju ke gereja khusus yang seolah2 "disucikan" gitu. Kalo jaman dulu mungkin itu ada. Tapi kalo gue pengertian baju ke gereja ya itu tadi, baju yg sopan dan nggak bikin orang lain resah, sewot en terganggu konsentrasinya dalam mengikuti ibadah.
Nah lo, pasti nanya ukuran sopan itu yg bgm?
Sopan dalam ukuran standar ketimuran kan ada. Misalnya, ya yg nggak buka-bukaan yg berlebihan sampai jeroaannya kelihatan, itu dalah satunya. Trus ada juga yg pake sandal jepit dan jins belel yg sobek2, menurut gue, itu masuk kategori nggak sopan untuk dipakai ke gereja.
Patokan ideal dalam urusan baju gereja ini, menurut gue sih memang nggak ada. Dan seharusnya nggak ada, karena gue yakin, Tuhan memang hanya melihat hati kita. Tapi, tadi awal gue bilang kudunya kita kasih yang terbaik untuk Tuhan. Tapi yg terbaik itu, jangan dikonotasikan mahal loh. Yang terbaik menurut gue antara lain rapi, bersih dan proposional. Maksud gue proposional, kitanya juga jangan mentang2 ingin sopan, masuk gereja di kampung aja kudu pake jas. Ini yg nggak proposional. Karena itu, kalau ada kawan yg minta gue bikinin baju untuk natalan, gue bilang jangan modelnya yg kelewat aneh2 dan harus sesuai sikon.
Jadi disini sebetulnya intinya, kalau kita ke gereja dan kita membuat orang lain merasa resah dan melotot melihat penampilan kita, pakaian kita, inilah yg salah.
Kita kan ke gereja untuk mencari damai sejahtera, kalau kita sdh bikin orang lain resah, gue pikir, kitanya sudah jadi batu sandungan.
Tapi memang sih ada pengecualian, misalnya kamu hadir dalam ibadah yg semuanya anak muda, atau ibadah padang, itu lain urusan. Yg aneh2 dikit bolehlah. Pokoknya fleksibel ko, yg penting nggak berlebihan lah. Tapi yg mesti diingat adalah kita jangan bikin orang laen tidak sejahtera. Kuncinya, janganlah kita menjadi batu sandungan dengan apa yg kita pakai."
Oks.....gut bgt tulisannya Oscar....
Rabu, 07 Juli 2010
Arti Persahabatan
Tadi pagi, aku merenungkan Firman Tuhan sambil baca buku P' Xavier tentang Arti Persahabatan. Hmmm...sangat bermanfaat untuk koreksi diri.
"Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yoh 15:13)
Dalam buku P' Xavier ada cerita singkat yang sangat bermakna: Disebuah panti asuhan, seorang bocah perempuan mengalami kecelakaan sehingga membutuhkan transfusi darah. Pihak panti mencoba mencarikan darah dengan golongan yg sama dgn gadis kecil itu, tapi gagal. Namun ada seorang bocah yg bersedia darahnya utk diambil. Dokter segera mengambil sample darahnya, setelah dicek ternyata cocok. Segera persiapan transfusi dilakukan. Akhirnya transfusi selesai. Selama proses itu, dokter melihat wajah bocah laki-laki itu pucat pasi.
"Apakah saya akan mati?" tanyanya kepada dokter itu.
Dokter itu mengerti kini, mengapa selama proses transfusi darah berlangsung bocah itu pucat pasi. Dia mengira bahwa memberikan darahnya itu berarti akan mencabut nyawanya. Luar biasa bukan? Meskipun ia tahu -walaupun salah- bahwa ia akan mati, dia masih mau mendonorkan darah untuk sahabatnya.
"Jika engkau mengira engkau akan mati, mengapa engkau masih mau menyumbangkan darahmu?" tanya dokter itu.
Dengan wajah polos dan mata bersinar-sinar bocah itu berkata, "Dia kan sahabat saya. Saya mau menolongnya!"
Membaca cerita di atas, aku jadi teringat wkt kecil dulu ketika SD, kami mempunyai 4 sahabat yang sangat dekat. Satu kali ketika istirahat kami berempat jajan siomay. Salah satu temanku, memecahkan piring siomay tersebut, dan ia harus mengganti piring tersebut. Karena kami masih anak-anak SD, jadi uang jajanan kami tidak banyak. Tapi karena kami sahabat erat, maka kami mengumpulkan uang jajan kami dan memberikannya ke abang siomay sebagai ganti piringnya yg pecah...hiks ;(
Namun begitulah arti persahabatan bagi anak-anak,begitu tulus, kami rela melepas uang jajan kami demi sahabat kami. Wow....it's great!! Tapi gimana dgn kita setelah dewasa? Masih adakah persahabatan yg tulus? Tidak mencari kepentingan sendiri, peduli dgn teman....??....hmmmm susah dijawab...... :(
Thx God untuk FirmanMu hari ini,
Yo kita baca lagi: Amsal 17:17
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
"Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yoh 15:13)
Dalam buku P' Xavier ada cerita singkat yang sangat bermakna: Disebuah panti asuhan, seorang bocah perempuan mengalami kecelakaan sehingga membutuhkan transfusi darah. Pihak panti mencoba mencarikan darah dengan golongan yg sama dgn gadis kecil itu, tapi gagal. Namun ada seorang bocah yg bersedia darahnya utk diambil. Dokter segera mengambil sample darahnya, setelah dicek ternyata cocok. Segera persiapan transfusi dilakukan. Akhirnya transfusi selesai. Selama proses itu, dokter melihat wajah bocah laki-laki itu pucat pasi.
"Apakah saya akan mati?" tanyanya kepada dokter itu.
Dokter itu mengerti kini, mengapa selama proses transfusi darah berlangsung bocah itu pucat pasi. Dia mengira bahwa memberikan darahnya itu berarti akan mencabut nyawanya. Luar biasa bukan? Meskipun ia tahu -walaupun salah- bahwa ia akan mati, dia masih mau mendonorkan darah untuk sahabatnya.
"Jika engkau mengira engkau akan mati, mengapa engkau masih mau menyumbangkan darahmu?" tanya dokter itu.
Dengan wajah polos dan mata bersinar-sinar bocah itu berkata, "Dia kan sahabat saya. Saya mau menolongnya!"
Membaca cerita di atas, aku jadi teringat wkt kecil dulu ketika SD, kami mempunyai 4 sahabat yang sangat dekat. Satu kali ketika istirahat kami berempat jajan siomay. Salah satu temanku, memecahkan piring siomay tersebut, dan ia harus mengganti piring tersebut. Karena kami masih anak-anak SD, jadi uang jajanan kami tidak banyak. Tapi karena kami sahabat erat, maka kami mengumpulkan uang jajan kami dan memberikannya ke abang siomay sebagai ganti piringnya yg pecah...hiks ;(
Namun begitulah arti persahabatan bagi anak-anak,begitu tulus, kami rela melepas uang jajan kami demi sahabat kami. Wow....it's great!! Tapi gimana dgn kita setelah dewasa? Masih adakah persahabatan yg tulus? Tidak mencari kepentingan sendiri, peduli dgn teman....??....hmmmm susah dijawab...... :(
Thx God untuk FirmanMu hari ini,
Yo kita baca lagi: Amsal 17:17
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
Selasa, 06 Juli 2010
Ayam Goreng Mentega
"mah udah lama ya kita ga buat ayam goreng mentega." bincangku dengan mama dengan maksud tolong besok dibuatkan masakan ayam goreng mentega :).
"Heeh, sampai lupa resepnya karena dah lama ga masak ayam goreng mentega lagi, mungkin perlu bongkar-bongkar laci tuh buat cari resepnya." jawab mama...gubracczzz...bongkar laci?? oohhh...no deh.....
Besok aku cariin di internet mah, ga usah bongkar laci bikin repot. Tinggal ketik ayam goreng mentega aja di internet, pasti ribuan resep akan muncul, ceritaku pada mama.
Hari ini aku ingat mau cari resep ayam goreng mentega di internet... nah aku search-lah kata ayam goreng mentega di internet....langsung muncul.... thx ya buat resep-resepnya yang ada di internet...buat temen2 yang mau resepnya jg aku posting disini... ;P
Ayam goreng Mentega:
Bahan:
ayam 1 ekor dipotong-potong ukuran sedang
2 sdm mentega
2 sdm kecap manis
2 sdm kecap asin
1 sdm kecap inggris
1 buah jeruk limau
3 buah bawang putih dihaluskan
1 buah bawang bombay dipotong2 tipis
merica secukupnya
garam secukupnya
Cara membuat:
Ayam dibersihkan, lalu potong-potong menurut selera, lumuri dengan garam dan merica, diamkan selama 15 menit, lalu ayam di goreng sisihkan.
Lumerkan mentega di wajan dengan api sedang tumis bawang bombay, bawang putih sampai harum
Masukan potongan ayam goreng aduk-aduk lalu masukan kecap manis, kecap asin, kecap inggris, merica aduk sampai mengental, angkat dan sajikan dengan perasan jeruk limau diatasnya.
wuuaaaa....makyus deh..... ;P
Senin, 05 Juli 2010
Hi...
Hi...
Salam jumpa di my diary
Selamat menikmati sajian-sajian yang special
Gbu,
Salam jumpa di my diary
Selamat menikmati sajian-sajian yang special
Gbu,
Langganan:
Postingan (Atom)